Bisnis dengan integritas: Adakah?

January 23, 2010
By administrator

 

*Pendahuluan*  

Bisnis dengan Integritas, Adakah? Suatu pertanyaan yang kedengarannya skeptis namun sebenarnya mengandung suatu harapan sederhana akan suatu model bisnis yang mampu membuat perbedaan dalam percaturan mencapai tujuan dasar memaksimumkan nilai perusahaan bagi stakeholders-nya. Mengapa timbul harapan seperti ini? Dunia bisnis Indonesia telah dipenuhi dengan stigma kolusi, korupsi, nepotisme, manipulasi, monopoli, mark-up, suap, politicking dan seterusnya. Kalau boleh dirangkum jadi satu, stigma ini bisa disebut sebagai ketidakjujuran. Begitu parahnya sampai-sampai mampu mengalahkan nilai yang seharusnya hidup pada suatu lembaga bisnis, yaitu profesionalisme.[1] Bahkan ketidakjujuran tidak pilih-pilih tempat, skandal rekayasa keuangan yang menggemparkan dunia bisnis ternyata terjadi juga di Amerika, negara adidaya yang bisa dibilang memiliki perangkat hukum yang kuat. Lihat saja Adelphia, Computer Associates, Dynegy, Enron, Global Crossing, ImClone Systems, Qwest Communications, Tyco Int’l, WorldCom dan Xerox, beberapa kasus yang akhirnya melahirkan RUU 97-0 tentang Reformasi Perusahaan dan Industri Akuntansi.[2] Tapi apa mau dikata, integritas telah tercoreng. Mungkinkah diperbaiki? Marilah kita optimis, karena optimisme akan melahirkan harapan. 

Harapan ini adalah harapan tentang integritas. Suatu kata langka yang sebenarnya tidak dilupakan namun dikesampingkan banyak pebisnis. Tulisan ini berusaha mendeskripsikan suatu bentuk bisnis yang dapat diadaptasi guna menggapai harapan itu. Tanpa bermaksud men-generalisasikan ataupun mengganggap pembahasan ini adalah yang paling ideal, tulisan ini mencoba mengangkat profil bisnis Berkshire Hathaway, salah satu perusahaan paling dikagumi di Amerika Serikat, dan menggali prinsip-prinsip dasar pemimpinnya Warren Buffet yang disebut-sebut sebagai investor terbesar sepanjang sejarah bisnis negara Paman Sam. Untuk lebih mengobati kerinduan kita akan harapan ini, akan dipaparkan juga secara singkat visi dan misi bisnis dari ServiceMaster, perusahaan jasa nomor satu di Fortune 500, serta mengenal lebih dekat corporate culture yang ditumbuhkan pemimpinnya C. William Pollard, sang penulis buku terlaris The Soul of the Firm

Demi sistematisasi yang bertujuan memaparkan suatu ide tentang bisnis dengan integritas, tulisan ini akan membahas pertama, definisi dan konsep dasar bisnis dengan integritas, kedua, fakta-fakta yang mewarnai dunia bisnis di Indonesia, ketiga, Profil bisnis Berkshire Hathaway, keempat, visi dan misi bisnis ServiceMaster dan gaya kepemimpinan C. William Pollard. Dan terakhir benang merah bernama kesimpulan dan solusi akan coba dikemukakan dalam rangka mewujudkan harapan akan lahirnya bisnis dengan integritas di Indonesia. Untuk mencapai sasarannya beberapa pembatasan akan diaplikasikan pada tulisan ini. 

Definisi dan Konsep Dasar Bisnis dengan Integritas  

Integritas mengandung makna prinsip moral yang tinggi, kebenaran, kejujuran dan ketulusan.[3] Dengan demikian bisnis dengan integritas berarti bisnis yang menjunjung tinggi prinsip moral yang tinggi, memegang teguh kebenaran, mempunyai fondasi kejujuran dan ketulusan. Bisnis yang dibangun dan dijalankan dengan integritas akan tahan uji dalam banyak kesulitan bahkan pada tingkat ekonomi yang berbeda-beda sekalipun, sebaliknya bisnis yang jauh dari integritas tidak akan mampu bersaing dan pada akhirnya akan mati. Bagi saya, konsep bisnis yang dijalankan dengan integritas adalah equivalent dengan bisnis yang beradab. 

Konsep bisnis dengan integritas atau bisnis yang beradab dipaparkan secara gamblang, lugas namun ringan oleh A.H. Lilik Agung dalam bukunya “Menumbuhkan Bisnis yang Beradab”. Konsep tersebut mengandung beberapa poin berharga yang saya percaya akan menginspirasikan setiap pembacanya, antara lain: 

  • Spiritualitas dan Moralitas Bisnis

Spiritualitas bisnis merupakan alat untuk menjalankan bisnis dengan berpedoman pada aturan moral. Hal ini mencuat karena sekarang ini masyarakat dunia yang sebelumnya dibombardir dengan ideologi pragmatis, materialis dan individualis akhirnya rindu untuk kembali pada tradisi lama dan nilai-nilai kebersamaan. Tradisi dan gejala ini mewujud dalam kehidupan spiritual. Tak pelak lagi, lembaga bisnispun terimbas gejala ini. Bagi kalangan optimis, spiritualitas bisnis tak ubahnya seperti marketing tools untuk memenangkan persaingan bisnis, karenanya dia dapat dipahami, dikonsepkan, dioperasionalkan dan dievaluasi. Hanya saja, konsep ini memerlukan suatu kesadaran akan satu hal yaitu bahwa segala sepak terjang bisnis adalah untuk memuliakan martabat manusia. Bisnis adalah suatu ekosistem, saling melengkapi dan tidak memangsa. Artinya ada suatu kelanjutan hidup setiap komponennya yang perlu dipertahankan. Bisnis adalah komunitas bukan mesin. Di dalamnya ada manusia yang berotak, berdaging dan bernurani. Dengan demikian bisnis merupakan suatu organisme hidup yang perlu dimotivasi dengan spirit, kabar gembira dan norma. Bisnis adalah manajemen, dan manajemen adalah transparansi, bukan rekayasa. Era baru adalah era transparansi, fair yang membuat segala sesuatu akan terlihat jelas dan pasti akan bermuara pada efisiensi dan efektifitas. 

A. Prasetyantoko dalam tulisannya di Harian Kompas, menggambarkan bahwa serangan 11 September di WTC Amerika telah merubah suasana bekerja di Marsh & McLennan, perusahaan multinasional yang berkantor pusat di WTC, dari kondisi yang sangat formal, dingin menjadi sangat kekeluargaan dan emosional. Simpati, uluran tangan dan perhatian yang tulus muncul, program kekeluargaan terbentuk dengan sendirinya. Tiba-tiba arti penting kehidupan umat manusia menjadi fokus perhatian yang tak pernah terlintas sebelumnya. Perusahaan jadi sangat berorientasi pada manusia. Christopher A. Bartlett (Harvard B-School) dan Sumantra Ghoshal (London B-School) mengatakan bahwa terjadi pergeseran orientasi bisnis yang semula hanya pada modal keuangan (financial capital), bergeser pada kemampuan organisasi (organizational capability) sampai akhirnya bertumpu pada kemampuan manusia (human and intellectual capital). Serangan 11 September seakan mengingatkan bahwa bisnis tidak boleh hanya berorientasi pada laba semata sampai menghalalkan persekongkolan yang tidak suci tapi harus direposisikan ke arah moral dan manusia. 

  • Etos Bisnis

Etos bisnis akan mencerminkan loyalitas, kecintaan dan rasa memiliki terhadap perusahaan yang amat besar. Etos bisnis berpedoman pada empat pilar spirit yaitu, goodness (kebaikan), trust (saling percaya), excellence (keunggulan), dan service (melayani) 

  • The Discipline of Business Ethics

Disiplin terhadap etika berbisnis mencakup tranparansi, disiplin pada produk/jasa yang manusiawi dan disiplin pada martabat konsumen (consumer intimacy). 

  • Pemasaran Etis, Pemasaran Kesejahteraan dan Sosial

Pemasaran haruslah etis yang dijalankan dengan satu tujuan pokok  yaitu untuk semakin memanusiakan manusia. Ford mendirikan Ford Foundation yang terkenal dengan bantuan beasiswa kepada mahasiswa negara berkembang yang ingin melanjutkan kuliah ke negara maju. Demikian pula Toyata Foundation dengan misi pendidikannya. Ada General Motors dengan program anti AIDS-nya, Chrysler dengan kampanye kembali pada keluarga. Di Indonesia sendiri ada Sampoerna Foundation yang memberikan beasiswa kepada siswa sekolah menengah, mahasiswa S1 dan S2 yang berpotensi tapi tidak mampu dalam hal pembiayaan. 

Sementara itu, integritas dan etika bisnis di atas hanya akan dapat diterapkan dengan disiplin dan konsisten bila memiliki konsep kepemimpinan yang handal dan efektif. LeRoy Eims mengemukakan dalam bukunya Be A Leader You Were Meant To Be mengemukan suatu prinsip kepemimpinan yang luar biasa yaitu: “Dibutuhkan seorang pemimpin untuk membentuk seorang pemimpin”. Suatu organisasi yang akan membawa dirinya ke arah tujuan yang diinginkannya adalah suatu organisasi yang memiliki banyak pemimpin di dalamnya. Ada konsep duplikasi di dalamnya. Bila seseorang ingin melihat anggota timnya kuat, setia dan bangkit di bawah kepemimpinannya, orang itupun harus menjadi seorang pemimpin dulu. Sekali lagi: Dibutuhkan seorang pemimpin untuk membentuk seorang pemimpin. Lebih lanjut dalam bukunya Be A Motivational Leader, Eims menyebutkan 12 ciri kepemimpinan yang efektif: 

  1. Bertanggung Jawab.
  2. Bertumbuh
  3. Menjadi Teladan
  4. Membangkitkan semangat
  5. Efisien
  6. Memperhatikan
  7. Komunikatif
  8. Berorientasi pada sasaran
  9. Tegas
  10. Cakap
  11. Mempersatukan
  12. Bekerja

Fakta-Fakta Dunia Bisnis di Indonesia 

Dunia bisnis di Indonesia seperti sudah disebutkan pada bagian pendahuluan penuh dengan stigma negatif yang melekat padanya. Fakta-fakta bisnis di Indonesia yang terungkap namun lebih banyak yang tak jelas penyelesaiannya semuanya berakar dari ketidakjujuran dalam berbisnis. Keserakahan telah menyirami benih-benih manipulasi, korupsi dan bahkan membesarkan praktek monopoli dan menciptakan ekonomi dengan basis konglomerat yang begitu besar namun sebenarnya begitu rapuh. Ekonomi dan politik Indonesia yang pernah dibanggakan sebagai salah satu yang paling stabil di Asia Tenggara telah mendasarkan fondasinya pada basis konglomerasi bisnis. Badai krisis ekonomi yang terjadi tidak saja merontokkan bisnis konglomerasi tapi turut menyeret negara ini ke jurang. Kita bisa melihat dari maraknya praktik kolusi yang sifatnya koruptif antara lain pada kasus Bapindo dan Golden Key Group yang sangat sulit dilacak karena alasan kerahasiaan bank. Padahal sebelumnya ada kasus Dicky Iskandar di Bank Duta lalu kasus Bank Summa di mana kerahasiaan bank tidak dipermasalahkan. Lebih jauh lagi kasus Golden Key dan Bapindo ini melibatkan sangat banyak orang dengan (akses) kekuasaan politik besar. Bahkan sampai sekarang Eddy Tanzil yang buron juga tidak diketahui dimana keberadaannya. Sementara itu  kasus lain yang mirip yaitu Kanindotex. Kemudian kasus hostile takeover Bank Papan Sejahtera oleh Jopie Widjaja yang menarik perhatian Christianto Wibisono masalah asal muasal dana untuk pembiayaannya.[4] Ditambah lagi dengan kasus kredit macet bank yang bertaburan yang dikucurkan untuk grup usaha sendiri.  

Kasus lain yang mengemuka belum lama ini adalah tentang divestasi BCA yang mengundang sorotan tajam Kwik Kian Gie. Kwik berpendapat ada yang keliru dalam penjualan BCA kepada Farallon Capital. Pemerintah hanya terima (inflow) Rp5 triliun rupiah hasil penjualan BCA, tapi akan keluar dana (outflow) sebesar Rp60 triliun dari bunga hasil obligasi rekap. Tentu saja ini bukan fair deal. Kwik mengatakan pernah bertemu dengan pemodal-pemodal besar di luar negeri dan bertanya kenapa mereka tidak tertarik untuk membeli BCA. Bahkan mereka berkata bahwa membeli BCA bukanlah suatu transaksi bisnis yang fair, karena pemerintah RI akan dirugikan. Tidak fair karena tidak saling menguntungkan.[5] Hal ini yang sama juga dikhawatirkan Kwik terhadap proses divestasi Bank Niaga yang masih terhambat. 

Terakhir yang masih cukup hangat adalah, kasus Kimia Farma Tbk. yang disinyalir melakukan manipulasi laba (ada overstatement laba yang seharusnya Rp99M menjadi Rp132M). 

Profil Bisnis Dengan Integritas 

Harapan akan suatu bisnis dengan integritas telah mendorong timbulnya motivasi mencari bentuk bisnis terbaik yang pernah ada di dunia dan penelitian literatur kecil tentang kualifikasi, prinsip dasar, prestasi dari dua perusahaan yang fenomenal, terbaik di Amerika (mungkin juga di dunia), yang secara konsisten menduduki posisi prestisius di kancah bisnis negeri Paman Sam dan diakui oleh Majalah Fortune 500, yaitu Berkshire Hathaway dan ServiceMaster

Profil Singkat Bisnis Berkshire Hathaway  

Berkshire Hathaway (BRK) adalah sebuah perusahaan yang ketika diambil alih oleh Warren Buffett tahun 1965 diperdagangkan pada harga $18 per lembar sahamnya. Dengan menggunakan BRK, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang asuransi, sebagai kendaraan dalam membeli dan melakukan investasi pada perusahaan lain di sektor manufaktur, ritel, surat kabar, stasiun TV dan radio, produsen permen, toko perhiasan, penerbit ensiklopedia, dan lain-lain, Buffett telah membawa BRK ke level harga perdagangan yang mencengangkan yaitu sebesar $74,000 per lembar saham, dengan annual return 28 percent. Mencengangkan bukan! Tidak sampai di situ, hingga saat ini BRK mempekerjakan 145,000 orang karyawan yang tersebar di seluruh Amerika. 

Kinerjanya yang selalu mengalahkan pasar dalam hal ini indeks S&P 500 dan Nasdaq sampai-sampai membuat para pengikut Teori Pasar Efisien selalu gigit jari. Berikut faktanya: Pengukuran yang disukai Buffet adalah dengan membandingkan perubahan dalam Book Value Per Share (BVPS) per tahun dengan total return S&P 500. Tahun 1999 BVPS BRK terdorong naik 0.5% di mana S&P 500 melonjak 21% sehingga terjadi underperformance 20.5%. Sejak itu Berkshire berbalik menjadi selalu overperforming terhadap S&P 500. Hanya pada tahun 2001 BVPS-nya turun 6.20% karena kegiatan operasi asuransinya rugi lebih dari $2 miliar karena serangan 11 September terhadap gedung WTC di New York. Itu adalah berita buruknya, namun berita baiknya sejak 11 September itu, aktifitas asuransi melonjak karena cost of coverage yang naik dan berpengaruh positif terhadap bottom line-nya BRK. Saat S&P 500 turun kira-kira 20% year to date, sampai dengan 30 Juni BVPS BRK naik 7,6%. Pada Mar 2000, saat Nasdaq mencapai puncaknya (interday) pada level 5.132, pada saat yg sama saham BRK menembus angka $40.800. Baru-baru ini Nasdaq diperdagangkan pada  level 1.270 (turun 75%), sedang BRK diperdagangkan pada $74,000 (naik 81%). Suatu prestasi yang luar biasa. 

Beberapa hal menarik yang merupakan prinsip-prinsip operasional BRK dan membuat kita berdecak kagum antara lain adalah: 

  1. Walaupun BRK merupakan korporasi, sikap bisnis mereka adalah kemitraan.
  2. Hampir semua direktur di BRK menginvestasikan sebagian besar kekayaan bersihnya pada perusahaan. Singkatnya mereka memakan apa yang mereka masak sendiri.
  3. Tujuan jangka panjang BRK adalah memaksimumkan tingkat keuntungan rata-rata tahunan dari nilai intrinsik mereka dalam basis per lembar saham.
  4. Jarang sekali menggunakan hutang. Lebih baik menolak kesempatan bisnis daripada hutang berlebihan. Prinsip konservatif dipegang dengan amat ketat
  5. Manajemen BRK tidak akan pernah memuaskan keinginan pribadi dengan mengorbankan kepentingan pemegang saham.
  6. Manajemen memiliki etika untuk turut memikul kondisi keuangn seburuk apapun
  7. Manajemen menjamin tidak akan pernah ada “big bath”, rekayasa atau manuver akuntansi agar laporan keuangan tampak bagus. Manajemen akan berusaha untuk tetap konsisten dan konservatif.
  8. BRK lebih menyukai sahamnya pada tingkat yang wajar (fair) daripada pada tingkat yang tinggi (high) sehingga tidak akan pernah menyesatkan investor dan pemegang saham.

Prinsip-Prinsip Dasar Warren Buffet 

  1. Berani melakukan sesuatu yang berbeda dari orang kebanyakan
  2. Menyukai kesederhanaan tapi gampang dipahami dan keterbuakaan informasi
  3. Melakukan capital allocation dengan efektif
  4. Tidak kompromi terhadap hal-hal prinsipil bahkan dalam situasi sulit sekalipun
  5. Kualitas perusahaan mencerminkan kualitas pemimpinnya.
  6. Selalu membuat hal-hal menjadi sederhana bukan kompleks
  7. Mengintegrasikan skil kuantitatif dan kualitatif
  8. Memiliki kematangan emosi
  9. Berorientasi jangka panjang
  10. Berpedoman pada nilai intrinsik bukan nilai yang dibentuk oleh pasar
  11. Selalu bekerja dalam perspektif pengusaha
  12. Selalu berpikir rasional
  13. Menjunjung tinggi kejujuran dan keterbukaan
  14. Harus memiliki pemahaman yang memadai sebelum mulai investasi
  15. Memperlakukan karyawannya sebagai individu yang bebas dan kreatif dalam bekerja

Pandangan-pandangan Buffett terbukti dalam banyak hal antara lain: corporate governance, stock options, perlunya accounting reform, pergeseran corporate ethics dan tentu saja stock market. Gaya manajemennya membuatnya memiliki karyawan yang setia, terbukti selama 38 tahun tidak ada satu orang pun eksekutif yang ia pilih dan percaya menjadi CEO pada grup Berkshire meninggalkan perusahaan itu untuk bekerja pada perusahaan lain. 

Profil Singkat Bisnis ServiceMaster 

ServiceMaster adalah perusahaan jasa paling dihormati di dunia dan menduduki peringkat prestisius No. 1 di Majalah Fortune 500. Predikat yang diperolehnya ternyata bukan hanya isapan jempol belaka namun dibuktikan dengan pertumbuhannya yang amat cepat, bahkan melipat ganda ukurannya setiap 3,5 tahun selama lebih dari 25 tahun, dengan revenue sekarang yang melebihi $6 milyar. Sungguh spektakuler! Saat ini mempekerjakan 240,000 orang yang tersebar di berbagai bidang pekerjaan mulai dari cleaning service untuk toilet dan lantai, memelihara boiler dan air-handling units, melayani makanan, mengusir serangga, pekerjaan taman dan lansekap, membersihkan karpet, menyediakan jasa pembantu, dan memperbaiki perlengkapan rumah. Tugas manajemen sebagai pemimpin adalah untuk melatih dan memotivasi para pekerjanya untuk melayani, sehingga mereka akan menjadi pekerja yang efektif, produktif dan tentu saja menjadi orang yang lebih baik. 

Yang membuat saya begitu mengagumi perusahaan jasa ini adalah misi mereka yang luar biasa. Kalau kita mengunjungi kantor pusat mereka di Downers Grove, Illinois, kita akan berjalan memasuki lobby yang luas; di bagian sebelah kanan terlihat dinding marmer yang berelief dengan tinggi 90 kaki dan lebar 18 kaki. Pada batu di dinding itu terukir empat pernyataan yang menunjukkan misi mereka: To Honor God In All We Do, To Help People Develop, To Pursue Excellence, dan To Grow Profitably. Suatu pernyataan yang sederhana tapi cukup kontroversial dalam memancing dialog yang mungkin tidak akan ada habisnya. Dua pernyataan pertama merupakan tujuan akhir mereka. Sedang dua pernyataan kedua merupakan kendaraan yang akan membantu tercapainya tujuan akhir. Tujuan-tujuan ini akan melengkapi setiap orang dalam melakukan apa yang benar dan menghindari apa yang salah. Tujuan ini mengingatkan mereka bahwa setiap pribadi telah diciptakan Tuhan dengan harga diri, nilai dan potensi yang besar. Juga mengingatkan mereka, bahwa prinsip inti mereka, seperti dinding marmer itu sendiri, tidak akan pernah berubah. 

Dalam masyarakat yang majemuk, beberapa orang mungkin mempertanyakan apakah tujuan mereka yang pertama (To Honor God in All We Do) adalah tujuan yang tepat untuk sebuah perusahaan publik. Bagaimanapun mereka tidak menggunakan tujuan ini sebagai dasar untuk mengecualikan, namun kenyataannya justru sebagai dasar atas promosi mereka akan keberagaman, sebagaimana mereka mengakui bahwa setiap orang adalah merupakan bagian dari ciptaan Tuhan yang berbeda-beda, terlepas apakah mereka memilih untuk turut mengikuti keyakinan mereka itu juga atau tidak. 

Keyakinan mereka tersebut tidak berarti bahwa semua aktifitas bisnis mereka akan dapat dilakukan dengan benar. Mereka mengalami bagian dari kesalahan yang pernah mereka perbuat  tetapi alasan mengapa mereka memegang dengan teguh standar mereka, termasuk alasan utama kenapa standar tersebut tertulis, adalah agar setiap kesalahan tidak dapat disembunyikan melainkan dibawa ke permukaan secara jujur untuk diperbaiki, dan pada beberapa kasus untuk dimaafkan. 

Orang-orang bekerja untuk menyumbangkan suatu sebab/arti, bukan hanya sekedar untuk  hidup. Ketika mereka menciptakan suatu penyesuaian antara misi perusahaan dan arti, mereka melepaskan suatu kekuatan yang kreatif yang menghasilkan jasa berkualitas kepada pelanggan dan pertumbuhan dan perngembangan orang yang memberikan pellayanan kepada pelanggan tersebut. Orang-orang menemukan arti dalam pekerjaan mereka. Misi pun menjadi suatu prinsip yang mengatur efektifitas. Tempat orang-orang ini bekerja telah menjadi suatu tempat di mana mereka bisa berkontribusi dan belajar dan melatih diri di mana pada akhirnya tempat ini menjadi sebuah universitasnya pekerjaan (University of Work). 

Mereka mengajarkan bagaimana menghargai suatu pekerjaan. Shirly Nelson, wanita pembersih di sebuah rumah sakit, masih saja tetap bersemangat bekerja walaupun sudah 15 tahun Mengapa? Apa yang memotivasinya? Dia telah melihat pekerjaannya dalam perspektif yang berbeda yang merupakan bagian tak terpisahkan dari tugas merawat kesehatan pasien di rumah sakit tersebut. Dia menanamkan ariti penting bahwa jika dia tidak membersihkan dengan benar-benar baik, dokter dan perawat tidak akan bisa bekerja, pasien tidak akan terlayani dengan baik. Rumah sakit itu bahkan akan tutup bila tidak ada kegitan membersihkan. Secara tidak langsung Shirley telah mengkonfirmasikan bagitu nyatanya misi perusahaan mereka. Bandingkan dengan Olga, seorang pembersih di Hotel di St. Petersburg Rusia, yang membersihkan dengan kain pel dan air yang kotor. Olga tidak bangga pada apa yang dikerjakannya, dia tidak punya harga diri dalam pekerjaannya. Tidak ada orang yang punya cukup waktu untuk mengajari ataupun untuk melengkapi peralatan kerja Olga. Dia tersesat pada suatu sistem yang tidak memperdulikannya. Dia menjadi objek bukannya subjek dari pekerjaan. Shirley dan Olga memang berasal dari tempat yg berbeda, bahasa yg berbeda tapi pekerjaan mereka sama, sama-sama mencari nafkah dan sama-sama punya keterbatasan finansial. Tetapi yang satu bangga dengan pekerjaannya dan mempengaruhi  cara pandangnya pada dirinya sendiri dan pada orang lain. Tetapi yang satunya tidak dan punya cara pandang yang tebatas tentang potensi dan nilainya. Perbedaannya berhubungan dengan siapa mereka diperlakukan, dicintai dan diperhatikan dalam lingkungan kerjanya. Pada satu sisi, misi perusahaan terlibat dalam proses poengembangan diri seseorang, bagaimana mengenali harga diri dan nilainya. Di sisi lain, tujuannya adalah untuk menyediakan kegiatan yang kita sebut pekerjaan. 

C. William Pollard, 20 tahun yang lalu, ketika dia memulai pekerjaannya sebagai vice president untuk masalah legal dan keuangan, dia menghabiskan  tiga bulan pertama dari trainingnya melakukan kegiatan cleaning dan mainteance di rumah sakit, pabrik dan rumah. Luar biasa! Suatu pembelajaran dalam melayani dan cara untuk memahami  dan menghargai kebutuhan dan perhatian kepada para pekerjanya. Ini disebut suatu kepemimpinan melayani (the leadership of servant) dan peranan seorang pemimpin dalam mengimplementasikan misi perusahaan. Training ini menjadi tertanam di dalam benak setiap orang supaya senantiasa ingat dan siap dalam melayani serta jangan sampai pernah meminta orang lain untuk mengerjakan sesuatu yang dia sendiri tidak akan bersedia melakukannya sendiri. Suatu corporate culture yang luar biasa! Setiap orang berbeda, dan kita tidak semestinya terlalu cepat menilai potensi seseorang dari penampilan atau gaya hidupnya. Adalah merupakan suatu tanggung jawab seorang pemimpin untuk menerima perbedaan dari banyak orang dan mengayomi lingkungan di mana orang-orang yang berbeda tersebut dapat berkontribusi sebagai bagian dari keseluruhan dan mencapai persatuan dalam keberagaman. 

Kesimpulan dan Solusi 

Tak bisa dipungkiri, Berkshire Hathaway dan ServiceMaster memang perusahaan-perusahaan spektakuler. Prestasi mereka yang luar biasa mungkin sulit untuk disaingi oleh perusahaan manapun di dunia ini. Beberapa prinsip-prinsip dasar mereka seperti konsep kemitraan, cakrawala jangka panjang, mengutamakan maksimalisasi nilai perusahaan tidak saja untuk kepentingan shareholders maupun stakeholders lainnya merupakan perwujudan dari konsep bisnis dengan integritas. Prinsip dasar lainnya seperti menghargai karyawan, etika bisnis yang kuat, termasuk pantangan mereka dalam melakukan bentuk-bentuk manipulasi dan rekayasa, konsistensi dan konservatif merupakan suatu aktualisasi dari konsep spiritualitas, etos & moralitas bisnis yang teguh. 

Seorang pemimpin atau CEO dituntut untuk jujur, bahkan berkewajiban untuk memberitahukan pada dunia tentang kualitas perusahaannya, apakah itu buruk atau baik. Termasuk bila harga saham perusahaannya sebenarnya tidak wajar, dia sepatutnya memberitahukan agar tidak menyesatkan pengguna informasi perusahaannya. Memang tidak berkewajiban secara hukum, tapi secara etika. Warren Buffett salah satu dari hanya sedikit CEO (bahkan barangkali tidak ada) yang berani memberitahukan dengan jujur bahwa pada suatu waktu harga saham Berkshire Hathaway telah overpriced, dan dia tidak merekomendasikan para investor untuk membelinya.[6] 

Di samping itu kualitas kepemimpinan menurut LeRoy Eims ada pada Buffet dan Pollard yaitu kemampuan mereka memimpin mampu membentuk pemimpin lain dalam organisasi mereka terlihat dari kesetiaan karyawan mereka dan kemampuan karyawan mereka untuk mengkonfirmasikan misi perusahaan mereka dengan jelas melalui pekerjaan yang mereka lakukan. Mereka merupakan pemimpin yang efisien, membangkitkan semangat mau memperhatikan kondisi karyawannya, mempersatukan dan mereka mencontohkan semua teladan mereka dengan turut bekerja.   

Ke arah manapun seseorang memandang hari ini, akan ada kebebasan dan pilihan yang lebih banyak dalam hidupnya, walaupun kebingungan dan ketidak pastian masih tetap ada. Misi perusahaan tidak dapat dipandang sebagai suatu alat penyembuhan, juga tidak dapat diaplikasikan seperti layaknya sebuah rumus matematika. Tapi dia dapat, menyediakan suatu dasar, suatu titik acuan untuk bertindak. Dia menawarkan suatu set prinsip-prinsip hidup yang memungkinkan kita untuk menghadapi kesulitan-kesulitan dan halangan-halangan dalam kehidupan pekerjaan. Ketika misi perusahaan kita menjadi suatu organizing principle, perusahaan kita menjadi suatu komunitas orang-orang yang saling mengasihi satu sama lainnya dan untuk hal tersebutlah mereka melayani. Ketika kita terus mendefinisikan dan memperbaiki misi tersebut dan mencari jalan untuk memenuhinya, marilah kita jangan sampai melupakan orang-orang yang melayani, yang membuatnya semuanya terjadi—karena mereka adalah jiwa dari organisasi kita.[7] 

Bagi bangsa Indonesia, kita harus mulai memikirkan kemana dunia bisnis kita akan pergi dan mulai mencoba mendirikan bisnis-bisnis yang punya integritas, bisnis yang beradab. Ketika timbul pertanyaan: Bisnis dengan Integritas, Adakah? Kita harus bisa menjawab: Ada! Faktanya bisa kita lihat pada Berkshire Hathaway dan ServiceMaster, dua dari mungkin lebih banyak perusahaan lain yang berdiri dan dibangun serta dikerjakan dengan integritas. Bukan pekerjaan mudah memang, tapi setidaknya pantas dan berharga untuk dicoba. 

————————————

Artikel ini merupakan tugas penulisan studi Lingkungan Ekonomi dan Bisnis – Pascasarjana Ilmu Manajemen Universitas Indonesia – November 2002

 ———————————–


 

[1] Pengantar tulisan A.M. Lilik Agung, Menumbuhkan Bisnis yang Beradab, PT. Grasindo, 2002, hal.xvii-xviii 

[2] Jawaban atas krisis akuntan di AS, tulisan Mustofa di harian Bisnis Indonesia, 26 September 2002, hal. T5 

[3] Webster’s New World College Dictionary, 3rd edition, Macmillan USA, 1995 

[4] Kumpulan Tulisan Kwik Kian Gie, Praktik Bisnis dan Orientasi Ekonomi Indonesia, PT. Gramedia,1996 

[5] Kuliah umum program doktor di salah satu daerah di P. Jawa yang disiarkan di salah satu TV Nasional. 

[6] Geoffrey Colvin, Between Right and Right, Value-Driven Column in Fortune Magazine, November 11, 2002 

[7] C. William Pollard, Mission as an Organizing Principle, The Peter F. Drucker Foundation Website, No. 16 Spring 2000 

———————————— 

R e f e r e n s i  

Agung, Lilik A. M., “Menumbuhkan Bisnis yang Beradab”, PT. Grasindo, 14 Februari 2002 

Colvin, Geoffrey, “Between Right and Right”, Value Driven Column-Fortune Magazine, November 11, 2002 

Eims, LeRoy, “Be A Motivational Leader-12 Ciri Kepemimpinan Yang Efektif”, Yayasan Kalam Hidup, Agustus 1999 

Eims, LeRoy, “Be The Leader You Were Meant To Be (Jadilah Pemimpin Sejati)”, Gospel Press, 2001 

Hagstrom, R., “The Warren Buffet Way-Investment Strategies of the World’s Greatest Investor”, John Wiley & Sons, 1995 

Kwik, Kian Gie , “Praktek Bisnis dan Orientasi Ekonomi Indonesia”, PT. Gramedia Pustaka Utama & STIE IBII, 1998 

Mustofa, “Jawaban Atas Krisis Akuntan di AS”, Harian Bisnis Indonesia, 26 September 2002 

Pollard, C. William, “Mission as an Organizing Principle”, Leader to Leader-The Peter F. Drucker Foundation for Nonprofit Management Website, No. 16 Spring 2000 

Prasetyantoko, A., “Corporate Family”, Kompas Cyber Media, 6 November 2002 

Serwer, Andy, “The Oracle of Everything”, Features-Fortune Magazine, November 11, 2002

Leave a Reply

Calendar

    January 2010
    M T W T F S S
        Mar »
     123
    45678910
    11121314151617
    18192021222324
    25262728293031

Tags