Ada etika di balik bisnis

Anda memimpikan pohon bisnis yang sehat, awet dan berbuah lebat? Bila ya, benih-benih pohon bisnis tersebut haruslah ditabur di tanah integritas yang baik, senantiasa disiram dengan air kejujuran yang bersih dan murni, selalu dibersihkan dari semak belukar keserakahan dan dipagari dengan benteng budaya malu. Satu lagi, sepanjang siklus pertumbuhannya tidak lupa ranting-ranting kering yang menyeleweng selalu dipangkas dan bilamana diperlukan berikan pupuk pelatihan moral agar dia tumbuh menjulang lurus ke atas mengejar matahari harapan. Dia akan bertumbuh sangat sehat dengan akar demikian kuat menghunjam begitu dalam ke perut bumi sehingga bila angin kuat iri hati ingin menjatuhkannya, maka dia akan tetap tenang bergoyang ke kiri dan ke kanan seperti layaknya bangunan konstruksi pencakar langit yang bergerak elastis ketika bertahan dari sebuah gempa. Terlalu idealkah konsep ini? Tidak akan mampu menyentuh ranah ril dunia bisnis? Tidak dapat diaplikasikan di Indonesia? Membangun bisnis dengan etika tidak mungkin? Sebenarnya tidak sama sekali. Dari sudut pandang  fase pertumbuhan, urut-urutannya sejalan dengan teori siklus hidup sebuah organisasi: lahir, berkembang, dewasa, ekspansif dan seterusnya sampai mencapai fase kemunduran. Poinnya adalah, sampai usia berapa perusahaan berjalan sebelum mencapai fase kemunduran. Kalau kita perhatikan rata-rata perusahaan yang berhasil menembus usia prestisius di atas 100 tahun ternyata tidak saja dijalankan dengan disiplin dan kompetensi yang terus diasah, namun lebih jauh lagi di balik kokohnya fondasi mereka ternyata tersimpan filosofi etik dan kepemimpinan etik yang sangat tegas dan tidak kompromi.

Sebut saja Otis Elevator Companyyang sudah berusia lebih dari 150 tahun. Perusahaan yang berkecimpung dalam bisnis alat angkut vertikal dan horizontal yaitu lift, eskalator dan moving-walkwaysterbesar di dunia ini sangat dikenal dengan “The Three Abolutes” mereka: Safety, Ethicsdan Internal Control. Etika menjadi salah satu landasan nilai absolut bagi mereka dalam menjalankan roda bisnis melayani pelanggan di lebih dari 200 negara dan teritori di seluruh dunia. Mereka tidak saja mengamini falsafah “The 4 Don’ts” mereka (Don’t Cheat, Don’t Lie, Don’t Stealdan Don’t Bribe), namun mengerjakannya secara nyata tanpa kompromi dalam berkompetisi mengejar service-excellence. Dengan perilaku yang beretika dan terhormat mereka mampu memenangkan kesetiaan pelanggan mereka.

Tidak berbeda jauh dengan Otis, Procter & Gamble (P&G), raksasaconsumer goodsdari Amerika yang juga sudah berusia lebih dari 170 tahun pun menganggap etika dalam bisnis sangatlah penting. Terbukti dari sistem pengembangan sumber daya mereka yang sangat unik dan menekankan integritas dalam karakter setiap pekerjanya. Bagi mereka integritas itu lebih dari sekedar tidak berbohong, mencuri ataupun menipu tapi yang lebih mendasar lagi mereka selalu berusaha agar setiap orang di P&G membangun rasa percaya dengan cara terbuka, jujur, lurus dan tanpa dibuat-buat. Prestasi P&G terbilang spektakuler, seperti tertulis di situs jejaring mereka, di mana kapitalisasi pasar mereka bahkan lebih besar dari GDP banyak negara di dunia. Mereka melayani konsumen yang tersebar di lebih dari 180 negara di dunia. Tanggung jawab mereka adalah menjadi warga korporasi yang beretika, tapi lebih jauh lagi maksud keberadaan mereka dalam dunia bisnis adalah untuk memperbaiki hidup dari konsumen di seluruh dunia melalui produk-produk mereka yang berkualitas dan bernilai tinggi. Prinsip etik dan tujuan bisnis mereka benar-benar berjalan selaras dan saling melengkapi.

Mari kita lihat DuPont, perusahaan penyedia solusi berbasis sains berusia lebih dari 200 tahun penghasil barang dan jasa yang melayani pasar mulai dari bidang pertanian, nutrisi, elektronik, komunikasi, keselamatan & perlindungan, perumahan & konstruksi, transportasi sampai bahan pakaian. Tersebar di lebih dari 70 negara di dunia, DuPont tercatat merupakan salah satu perusahaan paling inovatif di dunia. Kemampuan mereka secara konstan untuk beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan dan landasan kokoh dalam menggali sains tanpa henti telah memungkinkan mereka meraih predikat tersebut. Namun di tengah-tengah itu semua, tengoklah sejenak nilai inti mereka yang juga tetap konstan, komitmen terhadap keselamatan dan kesehatan, prinsip melayani lingkungan, perilaku etika yang tinggi dan menaruh rasa hormat pada manusia. Melihat konteks pembahasan kita, ternyata perusahaan sekelas DuPont tetap menjunjung tinggi perilaku etika yang tinggi dalam berbisnis dan ini dilakukan secara konstan.

Banyak perusahaan lain di dunia yang juga menorehkan tinta emas dalam sejarah prestasi korporasi bisnis menjadikan perilaku bisnis beretika sebagai falsafah atau nilai absolut yang mereka anut. Kalau begitu, beberapa pertanyaan di paragraf pertama seperti: “Terlalu idealkah konsep ini?”, “Tidak akan mampu menyentuh ranah ril dunia bisnis?”, “Tidak dapat diaplikasikan di Indonesia?”, “Membangun bisnis dengan etika tidak mungkin?” terjawabkah sudah? Nanti dulu. Mari kita lihat beberapa perusahaan besar lainnya yang juga mencatat prestasi mencengangkan walau tanpa penerapan konstan akan perilaku bisnis yang beretika.

Masih ingat Enron? Perusahaan energi dengan wilayah bisnis mencakup gas alam, pulp& paper, pembangkit listrik & air, teknologi broadband, dan financial market traderini berdiri sejak tahun 1985. Dalam kurun waktu 1990-1998 sahamnya tercatat melonjak luar biasa sebesar 311%. Mencapai prestasi puncaknya dengan menyabet gelar perusahaan besar paling inovatif di Amerika. Namun mengajukan kebangkrutan tahun 2001. Kenapa? Ternyata banyak praktik-praktik tidak sehat yang dijalankan manajemen perusahaan selama bertahun-tahun. Laporan keuangan mereka disusun tanpa mengindahkan prinsip transparansi. Manajemen melakukan apa yang kita kenal sebagai earnings management(melaporkan income& cashflowyang “up”, nilai aset yang “inflated”, dan mencatat hutang “off the books”). Teknik pengakuan pendapatan dilakukan sedemikian rupa sehingga membuat hyper-inflated revenuealias penggelembungan berlebihan atas akun penjualan perusahaan. Belum lagi membukukan biaya atas proyek yang telah dibatalkan sebagai aset. Hutang yang semakin membesar ditutupi melalui penciptaan banyak “special-purpose entities”. Mengelabui banyak analis dengan menciptakan image korporasi yang seolah-olah mencerminkan penerapan good corporate governance. Metode-metode ini selama bertahun-tahun telah berhasil menciptakan pergerakan saham yang terlihat terus mendaki untuk memenuhi ekspektasi pasar saham namun sebenarnya mengelabui para investor. Di balik prestasi semu yang mendatangkan decak kagum pasar sesungguhnya tengah terjadi proses pengeroposan dan pembusukan dalam perusahaan. Kuat sekali tercium indikasi agency problemdalam praktik operasional perusahaan, terlihat dari pemberian paket kompensasi yang sangat berlebihan bagi para eksekutifnya. Manajemen resiko yang mereka terapkan dalam pengelolaan instumen derivatif ternyata malah mendatangkan bahaya bagi perusahaan. Kenapa hal ini dibiarkan terus menerus terjadi? Bukankah mereka memiliki audit committeeyang mengawasi jalannya perusahaan? Kenapa ini tidak terdeteksi oleh external auditorsejak dini? Kepiawaian manajemen ternyata mampu menekan audit committee. Selain itu conflict of interestsjuga terjadi dalam hal penggunaan jasa audit dan consultingdari penyedia yang sama, yaitu Arthur Andersen.

Mari kita lihat apa akibat yang ditimbulkan oleh praktik-praktik semacam ini. Kepercayaan investor anjlok, pastinya. Enron segera melakukan restrukturisasi kerugian secara besar-besaran dan hal ini tentu saja mengundang investigasi dari Securities & Exchange Commission(SEC). Likuiditas Enron mengering, peringkat hutang memburuk, harga saham anjlok dari US$83 menjadi hanya US$0.6 per lembar. Tak bisa mengelak lagi, Enron mengajukan kebangkrutan. Penegakan hukumnya bagaimana? Andrew Fastow, CFO, dihukum 10 tahun penjara. Jeffrey Skilling, CEO, 24 tahun dan 4 bulan penjara dan Kenneth Lay, Chairman, 45 tahun penjara.

Satu lagi contoh kasus praktik bisnis yang tidak mengindahkan integritas dialami oleh Worldcom, perusahaan telekomunikasi yang didirikan tahun 1983 dengan wilayah bisnis mencakup telepon, long-distance calls, dan internet backbone. Mendapat pujian yang luas dari pasar karena berhasil meraih gelar perusahaan dengan capaian growthtertinggi di Amerika. Growth strategyWorldcom melalui serangkaian aksi mergers & acquisitiontelah memungkinkan mereka menuai prestasi tersebut. Namun mengajukan kebangkrutan di tahun 2002. Apa pasal? Lagi-lagi praktik-praktik tak lurus ada di balik kesuksesan Worldcom. Tidak jauh beda dengan Enron, banyak transaksi keuangan yang dicatat tidak semestinya, antara lain: mengkapitalisasi biaya operasi menjadi biaya modal dan membalik akun cadangan kerugian penjualan. Selain itu conflict of interestspun terjadi dengan adanya “corporate loan for senior executives” dengan tingkat suku bunga lebih rendah dari pasar. Juga conflict of interestsantara eksekutif dengan analis pasar mengakibatkan ulasan-ulasan tentang kondisi keuangan dan prospek perusahaan menjadi “terlihat bagus” agar memenuhi ekspektasi pasar. Tapi sampai berapa lama kebusukan tidak akan tercium? Akibat praktik-praktik ini pun tak terhindarkan: kepercayaan investor anjlok, penyelidikan intensif oleh SEC, harga saham turun sampai titik terendah dari US$64 menjadi US$ 0.2 perlembar dan akhirnya Worldcom mengajukan kebangkrutan. Implikasi hukumnya? Scott Sullivan, CFO, dihukum 5 tahun penjara dan Bernard Ebbers, CEO, 25 tahun penjara.

Bagaimana dengan Indonesia? Beberapa perusahaan besar diduga juga melakukan banyak praktik-praktik tak jujur namun kelihatannya penegakan hukum belum sampai seperti penerapan di Amerika karena banyak kasus yang sempat mencuat tapi kemudian seperti menguap dan tidak jelas penyelesaian akhirnya. Sebut saja kasus yang menerpa Bapindo dan Golden Key Group (tercium unsur korupsi dan beredarnya memo sakti dari petinggi), masalah divestasi BCA (masalah business fairness), Kimia Farma (overstatementlaba), Masaro (kasus dugaan suap/korupsi), Bank Century (bail-out) dan Perusahaan Gas Negara (dugaan suap, korupsi dan pemerasan). Namun demikian, mari kita tak putus berharap karena hati kita sedikit terobati dengan munculnya salah satu perusahaan nasional yang menjelma menjadi multinasional, Medco Group. Dimulai dari sektor energi, bisnis perusahaan yang berdiri tahun 1980 ini merambah luas ke wilayah agribisnis, keuangan & perbankan, hotel & properti serta industri makanan. Bisnis energinya sendiri telah berekspansi ke luar negeri antara lain: US Gulf of Mexico, Libya, Oman, Yemen, dan Cambodia. Medco terbilang perusahaan tahan uji karena berhasil lepas dari lilitan utang besar akibat merosot tajamnya kurs rupiah dan kesulitan likuiditas pada era krisis ekonomi dan keuangan yang melanda Indonesia selama kurun 1997. Nilai-nilai tertinggi dalam falsafah Medco terletak pada profesionalisme, kewirausahaan, integritas, dan kemitraan. Founderdari Medco, Arifin Panigoro sendiri mengatakan dalam orasi ilmiahnya saat dianugerahi gelar doktorhonoris causadari Institut Teknologi Bandung, bahwa dalam jangka panjang, berbisnis yang didasari dengan prinsip-prinsip yang baik, yang secara umum sering disebut berbisnis dengan berpegang teguh pada etika, adalah jaminan utama bagi terselenggaranya kegiatan bisnis dan tercapainya tujuan bisnis yang membawa kemaslahatan bagi masyarakat luas.

Ungkapan yang disampaikan oleh Arifin Panigoro ini agaknya boleh kita jadikan sebagai pelipur lara atas keprihatinan terhadap maraknya perilaku tidak etis oleh berbagai elemen bangsa. Mulai dari aksi siluman dari mafia hukum dan peradilan, serentetan dugaan korupsi yang menerpa anggota DPR, pejabat negara dan daerah yang melibatkan banyak institusi bisnis sampai dengan dugaan plagiarisme dalam penyusunan makalah guru besar perguruan tinggi, rasanya semua bermuara pada etika dan integritas yang sudah terlalu sering dikesampingkan.

Menarik sekali bila kita membaca sebuah ulasan di majalah Campus Asia edisi May-July 2009 Vol 2 No 10 dengan judul Overcoming the Global Crisis by Promoting Moral Standards. Sebuah bahasan yang menawarkan pendekatan berbeda sebagai solusi terpuruknya ekonomi dunia. Ketika dunia menghadapi krisis keuangan global, kenapa pemerintah memutar otak begitu kerasnya untuk mencari solusi yang tepat untuk mengatasinya? Apakah regulasinya yang harus diperbaiki? Atau perangkat hukumnya disempurnakan? Kelihatannya semakin banyak regulasi yang dikeluarkan pemerintah untuk melindungi ekonominya, semakin cerdas pula orang dalam memanipulasinya. Mereka yang melanggar hukum secara canggih bisa saja adalah orang yang menguasai hukum itu sendiri. Mereka yang menghancurkan ekonomi mungkin saja adalah orang yang semestinya melindungi ekonomi itu sendiri. Ketika kepentingan pribadi bertakhta, siapapun akan dapat main hakim sendiri, terlebih lagi institusi-institusi berpengaruh yang beroperasi di banyak negara. Jadi, satu cara dalam memandang krisis keuangan yang melanda Amerika tahun lalu adalah tidak dengan berfokus pada instrumen hukum tapi pada instrumen moral. Prof. Paul Johnson dari La Trobe University Australia saat memberikan kuliah umum di Universitas Pelita Harapan, mengungkapkan bahwa krisis telah memberikan pelajaran berharga bagi banyak orang bahwa instrumen hukum tidak cukup untuk melindungi ekonomi kecuali aktor ekonomi dan bisnis termasuk pembuat kebijakan dan pengambil keputusan memiliki standar moral dan etika yang tinggi. Nilai-nilai kebajikan ini adalah kekuatan penggerak paling kuat untuk memastikan terselenggaranya good governancedalam sektor ekonomi dan bisnis. Prof. Adrianus Mooy dalam kesempatan yang sama juga mengemukakan perlunya universitas “memproduksi” para intelektual yang berintegritas. Bila universitas saja mengabaikan hal ini, institusi mana lagi yang akan perduli untuk mempersiapkan aktor ekonomi yang berintegritas? Lebih jauh Prof. Mooy mengatakan bahwa yang dibutuhkan sekarang bukanlah stimulus ekonomi tapi stimulus etika. Stimulus moral hanya dapat dihasilkan oleh para pembuat keputusan yang berstandar moral tinggi.

Walaupun belum pernah membaca suatu studi empiris yang menggambarkan hubungan antara penerapan etika dengan sukses tidaknya suatu bisnis, saya melihat banyak sekali fakta yang menguatkan adanya korelasi yang begitu kuat antara keduanya. Beberapa contoh perusahaan fenomenal yang berhasil menembus usia prestisius di atas 100 tahun memiliki falsafah etik yang begitu kuat dan membudaya. Sebaliknya beberapa perusahaan hebat yang mencapai fase kemunduran dini ternyata memelihara praktik-praktik tak beretika selama hidupnya. Kalau begitu percayakah anda bahwa good ethics leads to good business? Bagaimana membuat good ethicsdapat mengakar kuat dalam organisasi anda? Harus mulai dari mana agar etika menjadi suatu nilai absolut dalam bisnis, pemerintahan, parlemen atau dalam bentuk organisasi apapun? Tampaknya urgensi pembinaan karakter berintegritas dalam setiap sendi kehidupan bangsa Indonesia sudah menjadi keharusan dan tak lagi bisa dipandang sebelah mata. Universitas harus menjadi “produsen” para aktor masa depan yang beretika. Belum cukup? Pemikir institusi pendidikan harus segera memformulasi metode pembelajaran etika sejak SMTA, atau bahkan sejak SMTP, atau lebih dini lagi sejak SD mungkin? Saya pikir juga masih belum cukup. Mari kita mulai dari organisasi yang lebih kecil lagi, keluarga kita sendiri. Mari menanamkan perilaku beretika kepada anak-anak kita sejak kecil dengan menjadi contoh yang nyata bagi mereka dalam hidup sehari-hari. Kalau sampai waktunya nanti, bila kita tetap sabar, kita akan menuai hasilnya. Kalau tidak dimulai dari diri kita sendiri, dari mana lagi?

 

Referensi:

www.otis.com

www.pg.com

www.dupont.com

www.medcogroup.com

www.wikipedia.org

Majalah Campus Asia edisi May-July 2009 Vol 2 No 10, Overcoming the Global Crisis by Promoting Moral Standards.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *